Tuesday, June 19, 2012

PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS BERBASIS ICT GUNA MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN


PENDAHULUAN

Latar Belakang

            Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat pesat telah berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan manusia. Sampai saat ini, menurut Toffler, perkembangan tersebut telah mencapai gelombang yang ketiga. Gelombang pertama timbul dalam bentuk teknologi pertanian, era pertanian ini telah berlangsung selama ratusan ribu tahun yang lalu bahkan sampai sekarang. Gelombang kedua timbul dalam bentuk teknologi industri, era industri ini telah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu sampai sekarang. Kini, gelombang ketiga yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi elektronika dan informatika. Perubahan dari era industri ke era informasi (global) ini hanya berlangsung dalam hitungan waktu tidak lebih dari setengah abad (Dryden dan Voss, 1999). Berbeda dengan era pertanian dan industri, masyarakat dunia telah berada dalam era masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge-based society). Dalam era seperti ini, kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan pengetahuannya untuk meningkatkan produktivitas menjadi vital.Pendidikan seyogyanya harus mampu membangun sumber daya manusia yang seperti ini. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan diarahkan agar mampu menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi tantangan masa depan secara efektif dan efisien, dengan memanfaatkan seluruh aspek sumber daya  
yang ada termasuk teknologi informasi dan komunikasi (TIK) atau dikenal dengan ICT (Information and Communication Technology). Pemanfaatan ICT untuk pendidikan, utamanya pembelajaran bahasa Inggris, sudah menjadi keharusan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi. Berbagai aplikasi ICT sudah tersedia dalam masyarakat dan sudah siap menanti untuk dimanfaatkan secara optimal untuk keperluan pendidikan. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk pendidikan dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk sesuai dengan fungsinya dalam pendidikan. Menurut Indrajut (2004), fungsi teknologi informasi dan komunikasi dalam pendidikan dapat dibagi menjadi tujuh fungsi, yakni: (1) sebagai gudang ilmu, (2) sebagai alat bantu pembelajaran, (3) sebagai fasilitas pendidikan, (4) sebagai standar kompetensi, (5) sebagai penunjang administrasi, (6) sebagai alat bantu manajemen sekolah, dan (7) sebagai infrastruktur pendidikan Merujuk pada ketujuh fungsi tersebut dapat dipahami bahwa ICT dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kualitas kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya dalam dunia pendidikan.- Selanjutnya, dalam perkembangan ICT untuk pendidikan
dikembangkan menjadi Jardiknas (Jaringan Pendidikan Nasional).
Secara umum, hasil pendidikan Indonesia belum memuaskan. Hal itu                           
tercermin pada laporan beberapa lembaga internasional berkenaan dengan tingkat
daya saing sumber daya manusia Indonesia dengan negara-negara lain. Berdasarkan
laporan UNDP tahun 2006, peringkat HDI Indonesia berada pada posisi 108 dari 177
negara. Sementara peringkat HDI Indonesia dibandingkan dengan negara-negara di
kawasan Asia pada tahun-tahun sebelumnya dapat dilihat pada Tabel berikut:
Tabel itu memperlihatkan bahwa betapa posisi Indonesia tidak jauh berubah
sejak tahun 1995, bahkan antara tahun 2003,2004, dan 2006 tidak mengalami
perubahan peringkat, bila di lihat dari jumlah negara yang di survei. Indonesia
berada diperingkat 112 dari 175 negara (2003) dan 111 dari 177 negara (2004) serta
108 dari 177 negara (2006). Organisasi internasional yang lain juga menguatkan hal
itu, yakni: International Educational Achievement (IEA) melaporkan bahwa
kemampuan membaca anak-anak SD Indonesia berada di urutan 38 dari 39
negara yang disurvei. Sementara itu, Third Matemathics and Science Study (TIMSS),
Tabel 1. Perbandingan HDI Indonesia dengan Negara lain


Negara
Tahun
1995
2000
2002
2003
2004
2006
Thailand
58
76
70
74
76
74
Malaysia
59
61
59
58
59
61
Philipina
100
77
77
85
83
84
Indonesia
104
109
110
112
111
108
China
111
99
96
104
94
81
Vietnam
120
108
109
109
112
109
                    Sumber: UNDP HDI Rank (1995, 2000, 2002, 2003, 2004, dan 2006)

lembaga yang mengukur hasil pendidikan di dunia, melaporkan bahwa kemampuan
matematika anak-anak SMP juga berada di urutan 34 dari 38 negara, sedangkan
kemampuan IPA berada di urutan ke-32 dari 38 negara (Puskur 2004).
Pembaharuan pendidikan di Indonesia memang harus terus dilakukan. Selain itu,
perlu juga diupayakan penataan pendidikan yang bermutu dan terus menerus, yang
adaptif terhadap perubahan zaman.Rendahnya mutu sumber daya manusia
Indonesia itu memang tidak lepas dari hasil-hasil yang dicapai oleh pendidikan
Indonesia selama ini dan, harus diakui, masih banyak persoalan yang dihadapi
dunia pendidikan Indonesia. Selama ini hasil pendidikan hanya tampak dari
kemampuan anak-anak menghapal fakta-fakta. Walaupun banyak anak-anak mampu
menyajikan tingkat hafalan yang baik terhadap materi yang diterimanya, tetapi
pada kenyataannya mereka seringkali tidak memahami secara mendalam substansi
materinya. Pertanyaannya, bagaimana pemahaman anak terhadap dasar kualitatif
di mana fakta-fakta saling berkaitan dan kemampuannya untuk menggunakan
pengetahuan tersebut dalam situasi baru?  Termasuk pula dalam pembelajaran bahasa
Inggris. Sebagai bahasa komunikasi dunia internasional, bahasa Inggris dipelajari oleh masyarakat sebagai media untuk mengenal dunia. Seiring kemajuan ilmu pengetahuan teknologi dan seni yang dikembangkan saat ini sebenarnya dapat digenggam di tangan siswa tanpa hitungan detik. Melalui dunia maya (:internet) pembelajaran bahasa Inggris menjadi makin menarik. Untuk itu, diperlukan langkah-langkah inovasi pembelajaran bahasa Inggris berbasis ICT dalam rangka meningikatkan mutu pendidikan bangsa Indonesia.

Bukti Keberhasilan Pembelajaran Menggunaakan ICT
Semua negara di dunia menyakini bahwa pendidikan merupakan faktor kunci
dalam pembangunan bangsa dan negaranya. Dua pokok permasalahan yang umumnya dihadapi mereka adalah peningkatan mutu dan perluasaan kesempatan belajar. Pertanyaan yang mendasar dalam menyikapi permasalahan tersebut adalah (1) bagaimana meningkatkan mutu pendidikan di semua jalur dan tingkatan sehingga
menghasilkan manusia dan generasi yang dapat memberikan kontribusi pada
masyarakat, bangsa, negaranya, mampu hidup dan bersaing dalam kancah dunia
global, namun tanpa kehilangan identitas nasionalnya, dan (2) bagaimana
memberikan pelayanan pendidikan dan belajar yang seluas-luasnya pada semua
anak dan warga negaranya terlepas dari latar belakang suku, agama, sosial ekonomi,
jenis kelamin, lokasi temapt tinggal serta kondisi mental fisiknya. Dua masalah ini tidak mudah dipecahkan bersama-sama. Mengingat berbagai keterbatasan yang ada sehingga seringkali perhatian yang diberi pada satu sisi menangguhkan penanganan sisi yang lain. Namun, dengan adanya ICT (Information and Communication Technology) diyakini sebagai salah satu cara strategis mengatasi masalah tersebut.

Hal ini didasarkan pada beberapa penelitian sebagai berikut.
1) Watson (1993) dalam The Impact Report. An Evaluation of the Impact of
Information Technology on Children’s Achivment in Primary and Secoundary
Schools menemukan korelasi positif penggunaan ICT di kelas dan kinerja siswa.
2) Laporan World Bank tahun 1997 tentang program Global Distance Learning Network (GDLN) melaporkan bahwa pengembangan e-learning pada pendidikan di Amerika sangat efektif memungkinkan 30% pendidikan lebih baik, 40% lebih singkat, dan 30 % biaya lebih murah (Uno 2007) 3) Muijs & Reynolds (2008) dalam

Effective Teaching menemukan bahwa penggunaan ICT di kelas memberikan dampak peningkatan antusiasme dan on-task behavior yang tinggi pada siswa dalam mengerjakan tugas, karena siswa mendapatkan hal baru dan berbeda (novelty effect). Hasil positif dari penelitian tersebut jelas mendorong penggunaan ICT dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk melakukan inovasi pembelajaran. Upaya ini sejalan dengan program dari Departemen Pendidikan melalui PMPTK yang bertekad untuk mengembangkan ICT dalam dunia pendidikan. Namun, agar langkah penggunaan ICT dalam pembelajaran bahasa Inggris dapat berjalan dengan optimal tentu dibutuhkan langkah yang sinergis dari pelbagai pihak, termasuk didalamnya oleh guru yang profesional.Artinya, seoarang guru mampu memiliki wawasan dalam penggunaan ICT selain pula kompeten dalam keilmuan tentang bahasa Inggris dan pembelajarannya.
Konsep Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis ICT
            Istilah pembelajaran bahasa Inggris berbasis ICT  memberikan pandangan bahwa ada sesuatu yang baru, unik dan menarik. Kebaruan, keunikan dan kemenarikan itu harus bermuara pada kemanfaatan. Manusia sebagai makhluk sosial yang dinamis dan tidak puas dengan apa yang sudah ada akan selalu mencoba, menggali dan menciptakan sesuatu yang ’baru’ atau ’lain’ dari biasanya, begitu pula masalah pengembangan pembelajaran  yang erat kaitannya dengan proses pembelajaran. Pengembangan  yang ada dalam pembelajaran dapat dimaknai sebagai suatu upaya baru dalam proses pembelajaran, dengan menggunakan berbagai metode, pendekatan, sarana dan suasana yang mendukung untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Lebih lanjut, istilah ‘baru’ adalah  “inovasi” dapat dimaknai sebagai apa saja yang belum dipahami, diterima atau dilaksanakan oleh si penerima inovasi (siswa). Jadi, inovasi pembelajaran bahasa Inggris berbasis ICT dapat diwujudkan dengan perangkat pembelajaran berbasis ICT. Perangkat tersebut meliputi:
(1)  kerangka konsep KTSP,
(2) silabus-RPP,
(3) materi ajar,
(4) media/alat peraga, dan
(5) evaluasi pembelajaran.
Secara sederhana, konsep inovasi dalam pembelajaran bahasa Inggris berbasis ICT dapat dilihat dari hasil perangkat pembelajarannya. Keseluruhan perangkat ini dikemas dalam format pembelajaran berbasis ICT dengan tidak mengesampingkan kompetensi komunikatif siswa dalam mempelajari bahasa asing. Titik tekan pembelajaran masih menonjolkan hakikat pembelajaran bahasa sebagai sarana komunikatif siswa dalam mengenal dunai sekitarnya. Dampak dari inovasi pembelajaran bahasa Inggris adalah lahirnya para guru inovatif. Berikut
disajikan gambar alur konsep inovasi pembelajaran pembelajaran bahasa Inggris berbasis ICT.
Sebagai media dalam proses pendidikan, ICT menawarkan beberapa aplikasi yang dapat dilakukan inovasi dalam pembelajaran bahasa Inggris. Aplikasi tersebut diantaranya adalah
sebagai berikut.


1. E-learning
E-learning atau pembelajaran melalui online adalah pembelajaran yang pelaksanaanya didukung oleh jasa teknologi seperti telepon, audio, videotape, transmisi satelit atau komputer. Seperti Kursus atau pendidikan dengan media pembelajaran jarak jauh (distance learning) dan cyber
classroom. Ada tiga sistem pembelajaran berbasis Internet dalam E-learning
a. Web Course
Merupakan penggunaan internet untuk keperluan pembelajaran dimana bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan dan ujian melalui internet atau tidak ada tatap muka dalam proses pembelajaran Seperti proses pendidikan jarak jauh (distance Education); virtual university.
b. Web Centric Course
Berbeda dengan Web Course, Web Centric Course lebih menekankan pembelajaran dimana bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, dan latihan melalui internet. Ujian, dan sebagian konsultasi, diskusi & latihan secara tatap muka persentase tatap muka yang dilakukan dalam proses pembelajaran lebih kecil. Seperti university off campus.
c. Web Enhanced Course
Merupakan penggunaan internet untuk keperluan pembelajaran dimana internet hanya untuk mendukung kegiatan pembelajaran secara tatap muka atau persentase tatap muka yang dilakukan
dalam proses pembelajaran lebih besar.
2. E-Library
Merupakan perpustakaan online yang berisikan 800 milyar informasi tentang ilmu pengetahuan dll.
3. Virtual University
Merupakan aplikasi dari proses pendidikan jarak jauh, dimana virtual university merupakan salah satu kemudahan yang diberikan layanan internet bagi pembelajar yang mengalami kesulitan dalam hal waktu tatap muka langsung, dan tentunya dalam prosesnya tidak mengurangi kualitas dari pendidikan tersebut.
4. EdukasiNet
Merupakan situs pembelajaran berbasis internet; artikel, rancangan pengajaran, bahan ajar, proyek pendidikan, kurikulum, tutor, pusat sebaran dan penerbitan, forum diskusi, Interactive school magazine, video teleconference (kelompok diskusi berpusat di Global School Network, cu-seemeschools@gsn.org), TV Edukasi dan search engine. Bentuk-bentuk pengembangan lain internet dalam media pendidikan Lab Online (Virtual Laboratory), Data base materi yang ter-update, RealtimeWeb sharing dan diskusi. Pada dasarnya situs EdukasiNet dapat dimanfaatkan oleh siapa saja dan dengan cara yang sangat bervariasi dan fleksibel, tergantung kepada situasi dan kondisi sekolah dan guru yang bersangkutan. Namun demikian, untuk membantu para guru dalam pemanfaatan situs ini, beberapa bentuk pola pemanfaatan berikut dapat dilakukan.
a. Pola pemanfaatan di Lab Komputer
Bagi sekolah yang telah memiliki fasilitas laboratorium komputer yang tersambung ke internet, dapat memanfaatkan situs ini di lab. Situs ini dapat diakses secara bersama-sama dalam bentuk klasikal ataupun individual di lab dengan bimbingan guru.
b. Pola pemanfaatan di Kelas
Apabila sekolah belum memiliki lab komputer, namun mempunyai sebuah LCD proyektor dan sebuah komputer yang tersambung ke internet, maka pemanfaatan
situs ini dapat dilakukan dengan cara presentasi di depan kelas. Bahan belajar yang ada pada edukasi.net akan menjadi bahan pengayaan proses pembelajaran tatap muka di kelas, sesuai dengan topik yang dibahas pada saat itu.
c. Pola penugasan
Untuk sekolah yang belum memiliki sambungan internet, dapat memanfaatkan situs ini dengan pola penugasan. Siswa dapat mengakses internet pada tempat yang menyediakan jasa layanan internet, misalnya warnet, di rumah, ataupun tempat lainnya.
d. Pola pemanfaatan individual
Di luar itu semua siswa di beri kebebasan untuk memanfaatkan dan mengeksplor seluruh materi yang ada pada EdukasiNet, baik yang berupa bahan belajar, pengetahuan populer dan fasilitas komunikasi secara individual. Pemanfaatannya bisa dilakukan di rumah,bagi siswa yang memiliki komputer yang tersambung ke internet atau dilakukan di Warnet. Untuk memanfaatkan EdukasiNet sebagai media pembelajaran di sekolah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar pemanfaatan EdukasiNet bisa berhasil, antara lain:
a) Faktor lingkungan yang meliputi institusi penyelenggara pendidikan (dalam hal ini sekolah).
b) Siswa/peserta didik/pebelajar, meliputi usia, latar belakang social ekonomi dan budaya, penguasaan bahasa maupun IT literacy, serta berbagai gaya belajar.
c) Guru/pendidik/pembelajar, meliputi latar belakang, usia, gaya mengajar, pengalaman, dan personalitinya.
d) Faktor teknologi meliputi computer, perangkat lunak, jaringan koneksi internet dan berbagai kemampuan yang dibutuhkan berkaitan dengan penerapan EdukasiNet di lingkungan sekolah.
5. Jardiknas Jardiknas merupakan Wide Area Network (WAN) Pendidikan skala Nasional Jardiknas terdiri dari 4 zona jaringan, meliputi:
(1) Jardiknas Kantor Dinas/Insitusi (DiknasNet), (2) Jardiknas Perguruan Tinggi (Inherent), (3) Jardiknas Sekolah (SchoolNet), dan (5) Jardiknas Guru dan Siswa (TeacherNet and StudentNet). Manfaat Jardiknas secara umum antara lain:
a) Peningkatan kecepatan layanan informasi yang integral, interaktif, lengkap, akurat dan mudah didapat.
b) Memberikan pelayanan data dan informasi pendidikan secara terpadu.
c) Menciptakan budaya transparan dan akuntabel.
d) Merupakan media promosi pendidikan yang handal.
e) Meningkatkan komunikasi dan interaksi baik secara lokal maupun internasional.
f) Mengakses berbagai bahan ajar dari seluruh dunia, dan
g) Meningkatkan efisiensi dari berbagai kegiatan pendidikan.
Bahkan untuk membuat jaringan yang lebih luas, aplikasi yang ada dalam ICT disalurkan pula dalam bentuk jaringan internet. Hingga saat ini jaringan ini telah menjadi suatu medium belajar dan mengajar yang perlu diperhitungkan kemanfaatannya. Menurut Kamarga (2002), internet merupakan jaringan yang terdiri dari ribuan bahkan jutaan komputer, termasuk di dalamnya jaringan lokal yang terhubung melalui saluran (satelit, telepon, kabel) dan jangkauannya mencakup seluruh dunia. Internet memiliki banyak fasilitas yang telah dipergunakan dalam berbagai bidang termasuk dalam bidang pendidikan. Fasilitas tersebut antara lain: e-mail, Telnet,Internet Relay Chat, News groups, Mailing List (Milis), File Transfer Protocol (FTP), atau World Wide Web (WWW). Ada lima aplikasi pengguna internet yang dapat digunakan untuk keperluan pendidikan, terutama dalam inovasi pembelajaran, yaitu e-mail, Mailing List (milis), News groups, File Transfer Protocol (FTC), dan World Wide Web (WWW) (Onno W. Purbo, 2002). World Wide Web atau sering disebut Web merupakan kumpulan dokumentasi terbesar yang tersimpan dalam berbagai server yang terhubung menjadi suatu jaringan (internet). Dokumen ini dikembangkan dalam format hypertext dengan menggunakan Hypertext
Markup Language (HTML). Melalui format ini dimungkinkan terjadinya link dari satu dokumen ke dokumen atau bagian yang lain (http://www.livinginternet.com). Sebenarnya, internet awalnya lahir untuk suatu keperluan militer di Amerika Serikat. Pada awal tahun 1969 Advanced Research Project Agency (ARPA) dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat, membuat suatu eksperimen jaringan yang diberi nama ARPAnet untuk mendukung keperluan penelitian (riset) kalangan militer. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya jaringan ini dipergunakan untuk keperluan riset perguruan tinggi, yang dimulai dengan University of California, Stanford Research Institute dan University of Utah (Cronin, 1996). Fasilitas aplikasi Internet cukup banyak sehingga mampu memberikan dukungan bagi keperluan militer, kalangan media massa, kalangan bisnis, maupun kalangan pendidikan. Dalam kaitan pemanfaatannya untuk pendidikan, Ashby (1972) seperti dikutip oleh Miarso (2004), menyatakan bahwa dunia pendidikan telah memasuki revolusinya yang kelima. Revolusi pertama terjadi ketika orang menyerahkan pendidikan anaknya kepada seorang guru. Revolusi kedua terjadi ketika diguanakannya tulisan untuk keperluan pembelajaran. Revolusi ketiga terjadi seiring dengan ditemukannya mesin cetak sehingga materi pembelajaran dapat disajikan melalui media cetak. Revolusi keempat terjadi ketika digunakannya perangkat elektronik seperti radio dan televisi untuk pemerataan dan perluasan pendidikan. Revolusi kelima, seperti saat ini, dengan dimanfaatkannya teknologi komunikasi dan informasi mutakhir, khususnya komputer dan internet untuk pendidikan. Revolusi ini memberi dampak terhadap beberapa kecenderungan pendidikan masa depan. Beberapa ciri tersebut, menurut Ashby seperti dikutip oleh Miarso (2004) adalah sebagai berikut: berkembangnya pembelajaran di luar kampus sebagai bentuk pendidikan berkelanjutan, orang memperoleh akses lebih besar dari berbagai sumber belajar, perpustakaan sebagai pusat sumber belajar menjadi ciri dominan dalam kampus, bangunan kampus berserak (tersebar) dari kampus inti di pusat dengan kampus satelit yang ada di tengah masyarakat, tumbuhnya profesi baru dalam dalam bidang media dan teknologi, dan orang dituntut lebih banyak belajar mandiri. Kecenderungan lain, seperti diungkapkan oleh Ryan et al (2000) adalah sebagai berikut:
a. Teknologi yang ada saat ini dapat mentransformasi cara pengetahuan dikemas, disebarkan, diakses, diperoleh dan diukur. Sehingga merubah cara produksi dan penyampaian materi dari cetak dan analog ke dalam bentuk digital dalam bentuk DVD, CD-ROM, maupun bahan belajar on-line berbasis web lainnya.
b. Orang akan lebih memilih metode belajar yang lebih luwes (flexible), mudah, dan sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya masing-masing. Sehingga memicu terjadinya pergeseran pola pendidikan dari tatap muka (konvensional) kearah pendidikan yang lebih terbuka.
c. Dengan adanya teknologi internet ini sistem penyampaian dan komunikasi (delivery system and communication) antara siswa dengan guru, guru dengan guru atau siswa dengan siswa dapat dilakukan dengan berbagai bentuk dan cara, baik secara bersamaan (synchronous) maupun (asynchronous).
Beberapa bentuk komunikasi yang dapat dilakukan antara lain adalah sebagai berikut (Purbo, 1997):
(1) Dialog elektronik (chatting); dialog elektronik adalah percakapan berbasis teks yang dapat dilakukan secara online dalam waktu bersamaan (synchronous) antara dua atau lebih pengguna internet. Contoh aplikasi dalam konteks pendidikan tinggi, dialog elektronik dapat digunakan untuk proses komunikasi antara dosen dengan beberapa orang mahasiswanya dalam mendiskusikan suatu pokok bahasan dalam perkuliahan tertentu.
 (2) Surat elektronik (e-mail); surat elektronik merupakan suatu bentuk komunikasi tidak bersamaan (asynchronous) yang memungkinkan terjadinya komunikasi antara mahasiswa dengan dosen atau mahasiswa dengan mahasiswa lain melalui surat yang disampaikan secara elektronik melalui internet.Berbeda dengan chatting, dengan cara ini umpan balik yang diperoleh mungkin tertunda.
(3) Konferensi kelompok melalui surat elektronik (mailing list); Mailing list merupakan perluasan dari e-mail dimana seseorang dapat mengirim pesan kepada sekelompok orang tertentu yang telah terdaftar untuk bergabung dalam kelompok diskusi. Sebagai contoh, seorang dosen memiliki daftar mahasiswa yang tergabung dalam kelompok mata kuliah tertentu. Pemberian tugas dan diskusi dapat dilakukan melalui fasilitas seperti ini.
(4) Konferensi jarak jauh (teleconference); konferensi jarak jauh dapat berupa konferensi audio maupun konferensi video.Kedua konferensi ini dapat dilakukan dengan cara “point to point” atau “multi point”. Cara pertama dilakukan dalam dua tempat. Sedangkan cara kedua dilakukan dalam lebih dari dua tempat. Sebagai contoh, seorang guru dari sekolah tertentu dapat mendiskusikan suatu topic tertentu kepada siswa di beberapa sekolah lain dalam waktu bersamaan. Kemajuan-kemajuan yang ada dalam dunia ICT perlu mendapat respon positif dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Namun, perlu diperhatikan pula masalah-masalah yang sering dihadapi dalam pengembangan inovasi pembelajaran bahasa Inggris berbasis ICT sebagai berikut:
1) Masalah akses untuk bisa menggunankan ICT seperti ketersediaan jaringan internet, listrik, telepon, dan sarana prasaran lain yang menunjang.
2) Masalah ketersediaan software (peranti lunak), yakni bagaimana mengusahakan peranti lunakyang tidak mahal.
3) Masalah nuture efek terhadap kurikulum yang ada
4) Masalah skill dan knowledge
5) Attitude terhadap ICT
Oleh karena itu, perlu diciptakan bagaimana semuanya mempunyai attitude yang positif terhadap ICT, bagaimana semuanya bisa mengerti potensi potensi ICT dan dampaknya ke siswa dan masyarakat, sehingga penggunaan teknologi baru bisa mempercepat pemerataan pendidikan dan pembangunan.











PENUTUP
            ICT merupakan wujud kemajuan ilmu pengetahuan teknologi dan seni yang harus dioptimalkan fungsinya, terutama dalam pelaksanakan pembelajaran bahasa Inggris. ICT memberikan peluang untuk menapaki komunikasi global, sehingga dalam menghadapi era persaingan global siswa perlu mendapat bekal yang memadai. Melalui inovasi pembelajaran bahasa Inggris yang berbasis ICT dapat memberikan peluang yang seluas-luasnya kepada siswa untuk mengasah dan memacu
kompetensinya dalam skala internasional. Di sisi lain, sikap mental dan kemadirian dalam mengakses segala infromasi pembelajaran yang dibutuhkan secara mandiri memberikan pengaruh dalam penanaman nilai-nilai kepribadian siswa agar tidak selalu menggantukan hidupnya dengan orang lain. Saat ini penguasaan ICT adalah keharusan yang bagi setiap insan agar tidak termakan zaman. Begitu pula dalam dunia pendidikan, inovasi pembelajaran khususnya pembelajaran bahasa Inggris dapat dilakukan dengan memanfaatkan jaringan internet dalam menghasilkan perangkat pembelajaran yang berbasis ICT. Semoga pemanfaatan ICT ini mampu mengantarkan pendidikan saat ini menuju pendidikan yang bermutu.











DAFTAR PUSTAKA

Abdurrachman Faridi, Inovasi Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis ICT : LEMBARAN ILMU KEPENDIDIKAN JILID 38, NO. 1, JUNI 2009, diakses tgl 18 Juli 2011, pukul 18.30
Dryden, Gordon & Voss, Jeannette. 1999, ”the Learning Revolution: to Change the Way the World Learns”, Torrance, California, USA: The Learning Web.
Indrajut, Richardus Eko. 2004, “Arsitektur Sekolah Modern Indonesia”, Presentasi Sajian.
Kamarga, Hanny. 2002. Belajar Sejarah melalui e-learning; Alternatif Mengakses Sumber Informasi Kesejarahan. Jakarta: Inti Media.
Miarso,Yusufhadi. 2007. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Edisi I Cetakan 3. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Muijs, Daniel and David Reynolds. 2008. Effective Teaching: Evidence and Practice. London: Sage Publications.
Purbo, Onno W. 2002. Teknologi elearning Berbasis PHP dan MySQL: Merencanakan dan
Mengimplementasikan Sistem elearning. Jakarta: Gramedia.
Puskur. 2004. Naskah Akademik. Jakarta: Puskur, Depdiknas.
Pustekkom, Depdiknas. 2005. Hasil Lokakarya EdukasiNet, Bogor 23–25 November 2005.
Pustekkom, Depdiknas. 2005. Buku Panduan Pemanfaatan EdukasiNet. Jakarta: Pustekkom.
Watson, D. (ed.). 1993. The Impact Report. An Evaluation of the Impact of Information Technology on Children’s Achievement in Primary and Secoundary School. London :
King’s College.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment